Tuesday, October 13, 2009

Abang Rizalku

Aku teruskan kucupanku ke atas bibirnya sambil tanganku memeluk erat pinggangnya. Tangannya meraba-raba di belakang tubuhku dan cuba untuk memasuki seluar pendekku. Aku membiarkan saja tangannya memasuki ke dalam seluarku. "You have no panties too, along," bisiknya ke telingaku sambil menjilat-jilat telinga dan leherku. "Mmmm….," itu sahaja yang boleh aku jawab. Aku mengangkang sedikit kakiku untuk menyenangkan tangannya menerokai kawasan punggungku. Tangannya terus menyelinap ke bawah dan jari hantu tangan kanannya menekan-nekan lubang punggungku manakala jarijemarinya yang lain bermain-main di belahan cipapku. "Aahhh… sedapnya bang, mainkan lagi bang," kataku sambil tangan kananku melepaskan pelukan dan menyeluk ke dalam seluar tightnya itu lalu terus menggenggam batangnya yang telah sedia tegang dan keras itu. Batangnya terasa sungguh hangat, suatu kehangatan yang memang memberangsangkan. "Bang, bawa along ke dalam bang, along takut orang nampak," pintaku dengan nada yang cukup manja. "Be my pleasure," balasnya sambil memimpin tanganku menuju ke dalam rumahnya. Setibanya kami di ruang tamu rumahnya, dia mendakapku kembali dan memberi satu kucupan ke bibirku. Aku menolak tubuhnya sedikit dan dengan jarak itu, aku menanggalkan pakaianku satu-persatu tanpa memikirkan apa lagi. Nafsu sudah menguasai diriku. Aku tidak lagi malu untuk memperagakan buah dadaku, cipapku serta seluruh tubuh gebuku kepada abang Rizal. "I'm all yours," kataku di luar kawalan. Abang Rizal menghampiriku semula dan dengan perlahan membaringkan aku ke atas permaidani tebalnya itu. Abang Rizal berdiri semula untuk menanggalkan seluar pendek ketatnya itu bagi menayangkan batangnya yang ku idam sejak tadi. Itulah pertama kali dalam sejarah hidupku melihat batang lelaki secara 'live'. Tidak sebesar dan sepanjang batang Mat-Mat Saleh yang biasa kulihat di dalam Net dan blue film , tapi cukup cantik. Perfect, kata hatiku dengan panjangnya 6 inci dan berukuran lilit lebih kurang 2 inci serta berkepala besar sedikit daripada shaftnya. Bentuknya melengkung sedikit ke atas. Buahnya yang dipenuhi dengan bulu-bulu kasar yang lebat itu cukup memberangsangkan aku. Dapat aku lihat batangnya terangguk-angguk. Aku senyum padanya. "And this is for you, my dear," balasnya sambil menggoyang-goyangkan batang pelirnya lalu datang mencangkung ke atas mukaku. Dia melaga-lagakan buah berbulunya itu ke mukaku dan aku keluarkan lidahku untuk menjilatnya. Dengan tidak payah dipelawa, tanganku terus memegang dan menggenggam batangnya sambil menyuakan ke dalam mulutku. Aku menjilat-jilat kepala batangnya dan terus mengulumnya. Dia menghayunkan punggungnya dan dapat aku rasakan yang kepala batangnya yang gemuk itu menekan-nekan anak tekakku. Dia memejamkan matanya, mungkin untuk mengawal perasaannya. Aku tahu yang lelaki cukup suka kalau batang mereka dijilat dan dikulum sepertimana yang sedang aku lakukan ini. Tiba-tiba dia memusingkan badannya sambil tidak menarik keluar batangnya dari dalam mulutku untuk menjilat cipapku yang telah becak and this is the best position bagiku untuk oral sex, 69. Lidahnya menjilat-jilat di seluruh kawasan cipapku sambil jarinya menekan-nekan lubang punggungku. Abang Rizal menjilat-jilat biji lentitku. Aku berasa sungguh sedap. Aku sudah tidak dapat mengawal diriku lagi. "ABANG… …..," aku klimaks. Abang Rizal menjilat air yang mengalir keluar dari lubang cipapku. Aku menggigit-gigit batangnya bagi menahan kesedapan. "Abang, fuck me, fuck me now. Gimme your fat cock," pintaku kerana sudah tidak dapat menahan kehendak nafsuku lagi. Dengan pantasnya abang Rizal bangun, menggesel-geselkan kepala batangnya ke biji kelentitku. "Fuck me now, fuck me. I can't take it anymore," rayuku. Abang Rizal menekan batangnya perlahan-lahan memasuki lubang cipapku yang sememangnya ketat. "Abang, slow-slow bang…. Arghhhh…!!! Along masih da… …!!" belum sempat habis keluhanku, batang pelir Abang Rizal menembusi lapisan daraku. "Along, you're still virgin…. Why don't you tell me..?", tanya Abang Rizal tiba-tiba. "It's okay bang, just keep on thrusting your cock, just fuck me abang… …," pintaku lalu Abang Rizal menghayunkan punggungnya. "Arghhhh…sedapnya bang, dalam lagi bang… dalam lagi," pintaku sambil mengemut-ngemutkan cipapku. Hayunan Abang Rizal makin laju dan batangnya masuk lebih dalam. To be continued in the next part.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment